Minggu, 26 Desember 2010

Barong, Wabah Penyakit sampai Calonarang

penyon bersabda agy,.,
yang suka gaib" baca dah nie........
Barong dalam kehidupan beragama di masyarakat Hindu Bali seolah sudah menjadi satu kesatuan. Sesuhunan di pura yang pada umumnya berujud barong, sangat disakralkan dan dihormati. Barong merupakan suatu sarana tari yang di-sunggi oleh satu atau dua orang, dan ditarikan bersama-sama. Menurut sejumlah narasumber, kata barong berasal dari barung atau bareng-bareng (bersama-sama) dan beriringan. Dari sana dapat disimpulkan bahwa barong merupakan simbolis dari persatuan. Adanya barong akan menyebabkan berkumpulnya orang-orang yang memiliki pemikiran sejalan, selanjutnya dari sana kemudian terbentuklah suatu sekaa atau perkumpulan. Dalam lingkup yang lebih luas berkembang menjadi pemaksan, banjar, desa, dan yang lebih luas lagi.

-----------------



AWALNYA, sebagaimana dijelaskan Jero Mangku Wayan Candra dari Sesetan, Denpasar, kehadiran barong di masyarakat diyakini sebagai bentuk permainan yang dilakukan oleh anak-anak dan remaja pada masa yang lampau. Suatu saat para pemainnya ada yang terkena pengaruh gaib, mereka kerasukan roh halus. Mungkin pada waktu itu terjadi komunikasi, sehingga untuk selanjutnya barong dijadikan sebagai benda sakral yang memiliki fungsi sebagai pengayom masyarakat penyungsung-nya.

Pendapat lain ada yang menyebutkan bahwa barong kemungkinan besar ada hubungan dengan tari singa barong dari Cina. Hubungan sejarah masa lalu antara negeri Cina dengan kerajaan di Nusantara -- khususnya Bali -- memang pernah terjalin dengan mesra. Sampai sekarang, hal itu masih dapat dilihat, banyak peninggalan yang ada kemiripan dengan apa yang ada di negeri Cina, seperti damar kurung yang mirip dengan lampu lampion. Penyebaran singa barong Cina ini kemungkinan besar masuk ke Bali pada masa pemerintahan dinasti Tang di Cina sekitar abad ke-7 sampai ke-10.



Serangan Wabah

Dalam lontar "Barong Swari" diceritakan bahwa Betara Ciwa mengutuk Dewi Uma turun ke dunia menjadi Dewi Durga. Selama berada di dunia, Dewi Durga melakukan tapa semadi. Diceritakan, saat Dewi Durga bersemadi menghadap ke arah utara, maka muncullah wabah penyakit yang disebut gering lumintu. Wabah mematikan ini menyerang sekalian manusia penghuni dunia. Lalu, ketika Dewi Durga bersemadi menghadap ke barat, munculah wabah penyakit yang disebut gering hamancuh. Ketika bersemadi menghadap ke selatan, muncul wabah gering rug bhuana. Dan saat bersemadi menghadap ke timur, terjadilah wabah gering muntah mencret.

Akibat dari semua itu, akhirnya wabah menyerang ke mana-mana. Banyak penghuni bumi yang meninggal dunia karenanya. Hal ini membuat gundah Sang Hyang Tri Murti -- Brahma, Wisnu, dan Ciwa. Beliau kemudian turun ke dunia dan masing-masing berubah wujud. Betara Brahma menjadi topeng bang, Wisnu berubah wujud menjadi telek, dan Ciwa menjadi barong.

Sampai kini, memang belum ada yang dapat memastikan asal-usul barong secara pas. Namun, itu bukanlah hal yang perlu dirisaukan, sebab masyarakat Hindu Bali, dengan keyakinannya yang sangat tebal, tetap menjadikan barong sebagai sungsungan yang akan memberikan mereka rasa aman dan keselamatan. Bagi mereka, barong adalah cerminan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala aspek dan manifestasinya.

Itulah sebabnya sampai kini masyarakat Hindu Bali masih tetap menjadikan barong sebagai sungsungan dan diperlakukan penuh dengan rasa hormat dan semangat pengabdian yang tinggi. Keyakinan akan kekuatan gaib yang dimiliki barong menyebabkan di beberapa desa di Bali sering dilangsungkan "barong ngelawang" -- kegiatan pertunjukan barong mengelilingi desa. Kegiatan semacam ini biasanya dilaksanakan pada Hari Raya Galungan-Kuningan, dan hari-hari baik tertentu.

Barong yang mengelilingi desa itu pada tempat-tempat tertentu akan beratraksi diiringi gamelan. Pada saat itu banyak penduduk yang meminta rombongan barong tersebut beratraksi di depan rumah mereka, kemudian menghaturkan canang dengan sesari sejumlah uang seikhlasnya. "Kalau direnungkan lebih dalam, maka akan terlihat di sini bahwa tujuan dari barong ngelawang itu, di samping untuk mengusir penyakit (gering), juga dimaksudkan untuk merayakan kemenangan dharma melawan adharma," ujar Jero Mangku Wayan Candra.



Ada 17 Jenis

Di Bali, sampai saat ini sudah tercatat ada 17 jenis barong. Bentuknya ada yang berupa hewan dan ada juga yang menyerupai manusia. Barong-barong tersebut adalah barong ket, barong bangkal, barong asu, barong macan, barong gajah, barong landung, barong brutuk, barong kedingkling, barong dawang-dawang, barong gegombrangan, barong sae, barong kambing, barong singa, barong lembu, barong jaran, barong manjangan, dan barong nagasari.

Kesaktian barong sebelum dijadikan sesuhunan oleh masyarakat Hindu Bali, terlebih dahulu harus melalui tahap pengujian. Hal ini penting dan perlu, karena sebagai pengayom nantinya barong itu harus memiliki kekuatan untuk melindungi masyarakat dari berbagai gangguan penyakit dan keamanan. Untuk itulah, sebelum barong itu berwujud, terlebih dahulu masyarakat akan mengadakan musyawarah untuk mendapatkan bahan barong.

Biasanya yang paling penting di sini adalah tapel (topeng) barong. Untuk membuat tapel barong biasanya dipergunakan kayu tertentu seperti kayu pule dan jepun. Kayu ini biasanya dicari di tempat-tempat tertentu yang terkenal angker dan memiliki kekuatan gaib. Untuk mendapatkan kayu tersebut, biasanya dicari hari baik serta dengan memakai sesajen banten pejati dan segehan. Selanjutnya, dicarikan hari baik lagi untuk proses pembuatan tapel tersebut.

Menurut Mangku Candra, sebaiknya yang mengerjakan tapel itu adalah seorang undagi, yaitu tukang yang sudah pernah dibersihkan dengan sarana upacara seperti mawinten atau pun maekajati. Ini penting, karena pada saat itu undagi tersebut sudah pasti mampu berperan sebagai seorang brahmana. Pada saat ini diperlukan sesajen berupa daksina gede dan pejati.

Badan barong terbuat dari rangka kayu dan bambu, yang kemudian ditutupi dengan semacam bulu. Selanjutnya, di antara bulu-bulunya itu dihias dengan bentuk-bentuk tertentu yang sarat dengan ukiran dan potongan kaca kecil-kecil yang ditata sedemikian rupa dan ini merupakan busana dari barong tersebut. Bulu untuk barong yang umum dipakai ada bermacam-macam seperti perasok, bagu, ijuk, bulu ayam, bulu burung, sutera asli, dan sutera sintetis.

Setelah barong itu jadi dan sebelum resmi di-sungsung oleh masyarakat, maka terlebih dahulu akan dilakukan upacara. Upacara-upacara tersebut sebagai berikut. Pertama, melaspas (upacara pembersihan) dengan tujuan untuk membersihkan keletehan (noda) baik yang bersifat sekala (nyata) atau pun niskala (tidak nyata) yang terdapat pada kayu dan pada saat penggarapannya. Hal ini penting agar kayu yang sudah menjadi tapel itu bersih dan suci. Pada proses ini juga dilakukan pengisian pedagingan yang terdiri dari emas, perak, dan tembaga, serta permata warna merah yang ditempatkan pada ubun-ubun barong.

Kedua, upacara pasupati yakni unsur kekuatan diisikan pada barong. Selanjutnya, upacara mejaya-jaya, yaitu upacara memohon restu di pura seperti Dalem Khayangan Tiga. Setelah itu, barulah dilakukan upacara masuci atau ngerehang. Tujuan dari upacara ini adalah agar barong tersebut menjadi suci, dan ada yang ngalinggihin. Caranya ada dua macam, bisa dilakukan di kuburan dan bisa juga dilakukan di pura. Kalau dilakukan di kuburan, maka diperlukan tiga buah tengkorak manusia sebagai alas duduk. Sementara kalau dilakukan di pura, maka ketiga tengkorak tadi boleh diganti dengan tiga butir kelapa gading. Biasanya, acara akan berlangsung pada tengah malam dan pada hari-hari tertentu seperti kajeng kliwon misalnya.



Atraksi Calonarang

Menurut Jero Mangku Wayan Candra yang sudah biasa membuat barong, hal yang tak boleh dilupakan adalah pecalonarangan. Artinya, barong yang sudah melewati proses upacara tadi melakukan atraksi pertunjukan atau ditarikan yang biasanya mengambil tema Calonarang. Seperti diketahui, tema cerita Calonarang tersebut mengandung unsur ilmu gaib yaitu ilmu hitam dan ilmu putih. Dengan demikian dalam pertunjukan tersebut nantinya memungkinkan adanya acara pengerehan dan pengundangan.

Yang terpenting di sini adalah acara pengundangan, yakni semua penganut ilmu hitam akan diundang untuk menjajal kesaktian. Di sini nantinya akan kelihatan, apakah barong tersebut hebat atau tidak. Selentingan di masyarakat memang sering terdengar, ada penari barong yang tiba-tiba mengalami sakit keras dan meninggal dunia. Tapi selentingan semacam itu pada akhirnya lenyap tertiup angin.

Kegaiban barong pada saat masuci atau ngerehang sering terlihat oleh banyak pasang mata, pada barong seperti memancar cahaya putih. Di samping itu, ada juga kejadian gaib lainnya, gigi barong berbunyi gemeretuk padahal tidak ada yang menggerakkan. Di beberapa desa, jika terjadi wabah, masyarakat akan memohon air suci yang diperoleh dari basuhan jenggot barong untuk dipakai menolak bala atau pun menyembuhkan penyakit. Dan itu terbukti berhasil.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar